“Lambat-lambat tapi pasti aku mulai mengerti: segala ketegangan ini hanya akibat dari ogah membayar karcis untuk memasuki dunia kesenangan, dunia dimana impian jadi kenyataan. Multatuli dan van Eysinga hanya membayar karcis. Mereka tak menghendaki sesuatu untuk diri sendiri. Apa arti tulisanku dengan karya mereka? Dan aku mengharapkan dan bernafsu mendapatkan segala untuk diri sendiri. Memalukan!”

(Bumi Manusia, h. 282)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s