Sekilas Cerita untuk Bang Anjut: Prau

Assalamualaikum…

Apa kabar, bang? Semoga baik lah ya… 🙂

Langung ke ceritanya saja ya, bang 🙂

Akhirnya saya naik gunung juga!  Saya tidak lagi hanya berimajinasi jika mendengar cerita abang saat berpetualang dulu ke gunung, rimba dan laut. Saya mengalami naik gunung secara serius, untuk yang pertama kalinya itu, kemarin (21-23 April 2017). Bagaimana ini bisa terjadi? Begini ceritanya:

Satu waktu saya mau minta copy file Cambridge Dictionary buat di-install di laptopnya saya. Waktu copy file itu kan saya buka dia punya folder dong. Dan disitu dia punya koleksi beberapa film. Saya minta copy beberapa dan salah satunya adalah film berjudul “Everest.” Ini adalah film tentang pendakian di gunung Everest yang ada di Nepal itu, yang termasuk salah satu gunung paling besar dan paling tinggi di dunia itu. Saya tontonlah filmnya. Lumayan seru ternyata, pemandangan Everest dan sekitanya bagus. Tapi ujung ceritanya cukup bikin pilu. Setelah itu, saya inget sama salah satu kolega (adik kelas waktu kuliah dulu) yang juga sudah beberapa kali naik gunung. Saya chat saja, spontan, nyeritain kalo saya baru saja nonton Everest dan film itu bagus (view-nya).

Singkat cerita, kolega saya ini ternyata punya rencana mau naik gunung Prau di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 14 – 16 April 2017. Dan Saya beruntung ditawari ikut, jika mau. Saya iya kan saja. Karena memang ini bakal jadi sesuatu yang baru buat saya.
Saya bilang perjalanan ke Prau ini serius karena ini beneran naik, mendaki gunung (ya iya lah), sementara persiapan saya hampir dari nol. Saya sudah lama tidak main keluar daerah yang jauh dari tempat tinggal/kerja, dan juga tidak punya peralatan yang memadai untuk secara lengkap bisa naik gunung. Untungnya ada sedikit tabungan gaji hasil ngajar sisa biaya ini itu, jadi saya belanjakanlah tabungan yang ada itu untuk barang-barang yang saya perlukan. Saya beli sepatu, kaos kaki, celana tracking, sarung tangan, headlamp, sabuk, kaos lengan panjang, dan kupluk, dan matras, dan jas hujan. Carrier (tas) tadinya mau dibantuin sama koordinator perjalanan, tapi saya bilang nanti coba cari dulu di sini. Saya enggak mau repotin dia kalau saya masih bisa tangani masalah saya sendiri. Dan memang ada teman kerja saya yang punya peralatan naik gunung dan dia bilang bisa saya pinjam.

Singkat cerita, jadilah saya pinjam beberapa barang seperti sleeping bag dan matras (Saya bawa matras dia karena lebih ringan). Yang tidak Saya jadi pinjam adalah carrier (karena carrienya menurut Saya terlalu riskan untuk dibawa) jadinya Saya putuskan beli baru aja (Saya pikir engga apa-apa lah, lagian juga bisa dipake buat lagi kalau perlu). Intinya sih, Saya enggak nyaman aja pinjem-pinjem barang orang (kecuali kalau terpaksa)—dan abang tahu sendirilah saya selalu enggak merasa nyaman kalau harus pinjam-pinjam barang orang :mrgreen:

Itu persiapan perlengkapannya. Saya juga bawa barang-barang lain seperti diinfokan koordinator perjalanan seperti alat makan pribadi (gelas dan piring, tapi sendoknya lupa nyelip di mana [bodoh kan?] dan piring itu juga sebenernya enggak perlu-perlu banget, soalnya ada nesting. Tapi saya bawa juga itu piring—yang akhirnya somplak di dalam tas 😀 Saya juga bawa makanan pribadi buat jaga-jaga aja (secara aya kan makannya sedikit-sedikit tapi agak sering).

Pesiapan lain adalah tentu saja menyiapkan fisik supaya kuat naik gunung. Kalau yang ini, Saya banyak terbantu dengan olahraga rutin Jumat sore yang sudah hampir 10 bulanan berjalan (meski kadang ada absennya karena ini dan itu di sekolah). Walaupun memang sebenarnya saya juga masih khawatir bisa atau enggaknya memaksa badan untuk naik ke Prau yang tingginya 2565 mdpl (meter diatas permukaan laut) itu. Lebih tepatnya nerima konsekuensi buruk kalau kecapean di Prau gara-gara ngangkat beban berat setengah atau mungkin seharian. Kenapa bisa begitu? Saya dikasih warning buat enggak ngangkat barang-berat-berat terlalu lama karena dulu pernah sakit gara-gara itu. Sekarang pun kadang masih ada sih nyeri-nyerinya, tapi kadang-kadang aja. Mungkin penyembuhannya agak lama.

Di satu atu sisi saya enggak mau fisik saya drop lagi (yang itu artinya ada beberapa hal yang nanti tidak bisa saya lakukan). Di sisi yang lain, kesempatan untuk ikut gabung ke Prau ini juga tidak bisa saya pastikan datang dua kali. Jadinya, ya saya ambil saja. Beresiko? Mungkin. Tapi kalau tidak diambil juga sayang banget jadinya: Saya kehilangan peluang 100%. Kalau diambil kan ceritanya bisa lain. dan saya ambil kesempatan itu—dengan segala resiko, dengan segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Perjalanan ini ditunda hingga minggu berikutnya (saya lupa kenapanya). Tapi untungnya tanggal 24 April 2017 itu libur nasional Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw, jadi waktu setelah pulang dari Prau-nya longgar. Saya dan group berangkat hari Jumat, 21 April 2017 jam 5 sore dari tempat masing-masing menuju titik kumpul di sekitaran Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur. Menurut abang yang jual tiketnya, bus berangkat jam 7 atau 8 malam. Dan dia memang benar: bus berangkat jam 8 malam ke Terminal Kampung Rambutan dulu yang jaraknya tidak begitu jauh itu. Buat apa coba? Buat Menuhin penumpang di bus. (Saya kira kami akan benar-benar berangkat meninggalkan Jakarta jam 7 itu. Tapi emang begitu sih mungkin caranya supaya mereka dapat uang lebih banyak. Tak masalah lah, yang penting kami sudah booking tempat kursi, dan kami ditempat di barisan paling depan. Inilah kelompok yang saya ikuti itu:

IMG-20170421-WA0024
Depan: Woro, Susi, Sofi. Belakang: Mamet, Sis

Yang paling depan ini namanya Susi Dariah (panggilannya Susi). Dia guru matematika di Beacon Academy, Jakarta Pusat. Dia adalah koordinator perjalanan kami. Di sebelah kirinya, yang pakai kacamata, itu namanya Hana Sofiana (panggilannya Sofi). Dia guru Matematika di sekolah High Scope TB Simpatupang, Jakarta Di sebelah kiri Susi ada Woro Retno (panggilannya Woro). Dia guru Matematika di sekolah Highfield, Jakarta Timur. Dan persis di belakang Susi berdiri Ahmad Apriyanto (panggilannya Mamet). Dia guru Matematika di Sampoerna Academy, Jakarta Selatan. Dan yang berdiri paling belakang itu adalah… ya siapa lagi, saya. Foto ini diambil saat kami masih di sekitaran Flyover Pasar Rebo saat menunggu keberangkatan.

Saya dan kelompok berangkat jam 11an malam (jika tidak salah) dari Terminal Kampung Rambutan. Malam itu macet gilak di Jakartanya (ampun dah!) Tapi ini kejadian biasa aja sih kalau long weekend mah. Banyak banged orang-orang yang keluar dari Jakarta dengan mobil pribadi atau bus angkutan umum pada akhir pekan yang panjang semacam ini. Jadi tidak perlu heran—walaupun kalau macet tetap saja kesal 😡

Ini video waktu saya dan grup mulai masuk tol Jakarta. Jalan masih lancar.
Dan tidak lama dari kemudian kami sudah harus mengantri karena macet.  (by the way, lagunya nostalgik-askyik kan? 🙂

Dan tidak lama dari kemudian kami sudah harus mengantri karena macet.

Dan lagu dangdut 90’an ini mengalun terus selama perjalanan di Tol Jakarta-Cipali. Ada hal aneh yang saya temukan dalam perjalanan dengan bus ini: saya menikmatinya.Malah sepertinya, jika dibanding dengan naik gunungnya sendiri, saya lebih menikmati perjalan di bus ini. Apalagi ketika semua orang sudah terlelap, sementara saya masih terjaga sendirian (untuk barisan penumpang paling depan) kecuali sopir dan satu kernet yang terkantuk-kantuk. Saya menikmati laju bus yang terus lurus (apalagi saat di tol Cipali yang panjang seperti tak berujung itu). Sopir memang masih memutar musik dangdutnya sebagai teman, meski tidak lagi begitu keras. Saya mengabaikannya. Suara lagu itu saya acuhkan. Saya fokus menikmati laju bus sambil menatap jalan ke depan. Entah mengapa, di saat itu saya merasa damai dan bebas. Saya menikmati kesendirian itu.

20170422_032807
Rest area tol Cipali

Ini adalah rest area di tol Cipali, Indramayu. Bus sampai di tempat ini sekitar jam 4 pagi. Kami tidak sempat shalat subuh karena belum masuk waktu, dan juga tidak bisa menunggunya karena kami harus meneruskan perjalanan lagi. Jika tak salah hitung, ini baru 1/5 perjalanan dari Jakarta.

20170422_081542
Tegal

Ini adalah foto sawah dan pegunungan di Tegal, Jawa Tengah. Foto ini diambil pada hari berikutnya, Sabtu, 22 April 2017 sekitar jam 8.15 pagi. Selama di Tegal perjalanan berjalan lancar. Namun ketika sampai di Bumi Ayu, kami harus mengantri lagi. Macet! Banyak bus dijalan yang sama juga ternyata.

Dari sini saya dan penumpang yang lain sempat turun naik bus beberapa kali. Kami gerah jika harus terus di dalam bus, sementara antrian masih panjang. Keluar dari bus juga sebenarnya adalah untuk meregangkan otot-otot yang tegang karena terlalu lama duduk. Sesekali kami membeli air kemasan dari pedagang asongan. Ada juga yang menjual makanan lain seperti tahu goreng, lontong, gorengan atau kacang rebus. Saya tidak tertarik membelinya. Kecuali kacang rebus, makanan-makanan yang Saya lihat itu terlalu banyak minyak sayurnya. Saya lebih banyak ngemil coklat dan biskuit selain yang saya bawa.
Dan ternyata, penyebab dari kemacetan panjang ini adalah salah satunya pembangunan flyover seperti terlihat di gambar di bawah ini:

20170422_104349
Pembangunan flyoer di ruas jalan kota Tegal

Mungkin konstruksi ini sedang mengejar target supaya bisa selesai sebelum lebaran. Saya enggak tahu juga sih. Tapi mudah-mudahan saja kerja mereka lancar dan jalanan tidak macet lagi nanti.

Dan ini adalah patung Jendral Sudirman di salah satu perempatan Purbalingga, Jawa Tengah:

20170422_131344
Patung Jendral Sudirman, Purbalingga

Dan inilah terminal Mendolo, Wonosobo, Jawa Tengah, tempat bus kami berujung.

Dari terminal Mendolo ini Saya dan grup naik mobil kecil menuju Patak Dieng, tempat pemberangkatan menuju ke gunung Prau. Mamet duduk paling depan di samping sopir. Susi, Sofi dan Woro duduk bergencetan di tengah. Saya sendiri duduk di belakang bersama barang-barang. Saya menikmati laju mobil ini, apalagi saat mendengar raungan mobilnya. Perjalanan dari Teminal Mendolo ke Patak Banteng ini lebih seru daripada perjalaan di bus di tol Cipali sebelumnya. Jika di tol Cipali saya menikmati solitude, kesunyian yang damai itu, maka di sini saya disajikan pemandangan yang menakjubkan (menurut saya tentu saja): undak-undakan tanaman kentang dan sayur lainnya, dan bukit-bukit yang coklat tanahnya dan hijau sayuran-sayurannya. Sejalan dengan mobil cepat yang berkelak-kelok, adrenalin saya juga cukup ikut terpacu. Ada rasa asyik berbalut takut. Tapi saat tahu sopirnya profesional (bapak sopirnya itu sudah berpengalaman mengantarkan para pendaki di daerah ini) rasa takut itu hilang. Itu juga terasa dari cara dia membawa mobilnya. Sekilas dengan suara mobilnya: 

Lumayan udik lah saya sudah bisa terhibur dengan raungan mobil ini 🙂

Singkat cerita, sampailah kami di salah satu rumah di Patak Banteng. Itu adalah rumah makan dan rumah singgah bagi pada pendaki yang akan menuju ke Prau. Setelah rehat sejenak, Saya langsung mandi karena rasanya tidak enak jika belum mandi. Dan, airnya…… diiiiingginnnnnn… sekaliiiiii, seperti air es. Sementrara, itu teman-teman saya makan terlebih dahulu. Saya sendiri tidak makan karena tidak merasa lapar.

Setelah itu, kami semua lalu membagi-bagi perlengkapan bersama seperti tenda dan bahan makanan bersama. Saya memang sempat kesulitan memasukan semua barang bagian saya ke dalam carrier. Itu karena bodohnya saya sendiri saja sih. Kenapa juga saya tidak minta bantuan bagaimana cara berkemas yang baik dengan menggunakan carrier ya? Saya pemula yang bodoh dan segan-an dan pemalu yang tidak seharusnya malu. Tidak hanya itu malah. Saya sempat kaget karena barang yang saya bawa ternyata jauh lebih berat dari yang saya duga. Saya lupa bahwa saya sudah memutuskan untuk pergi ke Prau bersama kelompok ini; dan saya akan menanggung resiko apa saja yang mungkin terjadi pada kesehatan saya dalam masa pendakian ataupun setelah pulangnya. Ada sesuatu yang harus saya terima karena kelupaan ini.
Singkat cerita lagi, inilah kami yang akan mendaki Prau dari Patak Banteng:

IMG-20170423-WA0017
Foto bersama sebelum mendaki

Kami semua berdoa sebelum berangkat. Tidak jauh dari rumah singgah, kami mendaftarkan diri (melapor) terlebih dahulu ke posko pemberangkatan:

Setelah itu, 15 menit pertama adalah waktu yang cukup berat bagi saya. Mungkin tubuh saya belum terbiasa dengan beban di pundak selama 15 menit itu. Kekhawatiran masih ada. Tapi setelahnya, alhamdulillah, semuanya lancar tidak ada halangan. Barang-barang di pundah saya pun rasanya tidak seberat sebelumnya. Mungkin tubuh saya sudah beradaptasi lebih baik. Capenya naik gunung ini jadi biasa saja.
Perjalanan dari pos pemberangkatan ke pos 1 cukup menantang, meski tidak begitu menguras tenaga karena landainya medan lumayan masih rendah untuk ukuran Prau. Jalannanya masih bebatuan (yang sengaja di susun itu) serta ada undak-undakan anak tangga yang sengaja dibuat dan ada tali kawat untuk berpegangan di beberapa ruas. Dan inilah kami sedang istirahat sejenak setelah melewati pos 1:

Lalu lanjut ke pos 2.
Dari pos 1 ke pos 2, perjalanan lebih menantang karena tidak ada lagi tali kawat yang bisa di pegang. Tapi undak-undakan anak tangga dari bambu dan kayu masih cukup banyak ditemukan sehingga perjalanan menjadi tidak terlalu susah. 
Inilah kami saat menjejakkan kaki di pos 2:

Lalu lanjut ke pos 3.
Perjalanan dari pos 2 ke pos 3 lebih menantang daripada sebelumnya karena sekarang landau medan lebih curam dan undakan anak tangga dari kayu atau bambu itu sudah mulai jarang ditemukan, hanya beberapa saja di titik-titik tertentu. Di beberapa spot ada akar-akaran yang bisa membantu, tapi juga kadang bisa menyulitkan. Tapi saat sudah mendekat ke tanda posnya, medannya sudah lebih landai dibanding medan dibawahnya. Di sekitaran titik ini perjalanan relatif lebih mudah. Dan inilah pos 3: 

Jika saya tidak salah, kami tiba di sekitaran Sun Rise Camp jam 11 malam (atau kurang lebih sekitar waktu itu). Karena mungkin sudah sama-sama lelah, kami akhirnya mendirikan tenda di sekitaran tempat itu saja dan tidak menjelajah tempat yang lain lagi. Setelah mendirikan tenda dan beres-beres, kami semua tidur.

Pagi di Prau

20170423_053253 copy

Dan ini adalah salah satu foto matahari terbit yang saya tangkap. Sayangnya cuaca pagi itu tidak begitu cerah. Jadilah mataharinya beranjak naik tanpa sempat menampakkkan diri secara utuh.

Aktifitas kami setelahnya adalah masak. Grup membawa chicken wings, sayur asam, telur, pudding, dan beras (itu yang saya ingat). Semuanya dimasak. Kira-kira jam setengah delapan atau jam sembilan semua sudah beres. Setelahnya kami membongkar tenda untuk naik ke puncak Prau lalu turun lagi menyusuri jalur Dieng. Dan inilah kami saat berada di puncak Prau.

IMG-20170423-WA0011


Turun ke Dieng
Kami tidak berlama-lama di puncak. Setelah beberapa kali mengambil foto kami langsung melanjutkan perjalanan turun. 

Ini kami sedang beristirahat lalu makan makanan yang dimasak pagi sebelumnya.

IMG-20170423-WA0027

Selesai makan dan istirahat sejenak, kami melanjutkan lagi perjalanan. 
Dan inilah gerbang pendakian jalur Dieng: 

20170423_125808 - Copy

Kami melewati gerbang ini sekitar jam 2 lewatan (jika tidak salah). Dan saat itu turun hujan. (Untungnya hujan turun setelah kami hampir mendekati gerbang, sehingga kami tidak terlalu kesusahan karenanya.)

Kami sempat berhenti sejenak di Posko pemberangkatan jalur Dieng menunggu hujan reda. Tapi karena ada anggota yang harus segera mandi (jika tak salah Woro, yang saya tidak tahu karena apa nya) kami akhirnya meneruskan perjalan ke tempat titik penjemputan, semacam perempatan yang banyak warung-warung di pinggir jalan dan mobil-mobil jemputan lainnya (untuk berangkat ke stasiun Purwokerto). Di sana kami makan dan mandi dan mengisi batrai smartphone dan kamera.

*

Jam 4 sore mobil jemputan datang (sesuai jadwal) dan berangkatlah kami dari Dieng ke Stasiun Purwokerto. Perjalanan ini memakan waktu 3,5 jam-an. Kami beristiahat di stasiun cukup lama karena kereta baru akan berangkat jam 10.15 malam. Di stasiun tadinya saya mau shalat magrib dan isya, tapi mushalla dan masjid tutup semua. Jadinya shalat saya tunda. Saya juga sempat melihat-lihat ke sekitaran stasiun. Tidak ada hal menarik yang saya temukan di sana. Akhirnya saya masuk kembali ke dalam stasiun dan mendengarkan musik di hape dengan earphone.

Jam 9 kami boarding dan menunggu kereta. Jam 10.17an kereta tiba. Kami masuk. Susi, Sofi, dan Woro, duduk satu klaster. Saya duduk di samping Mamet di klaster sebelah mereka.
Di depan saya ada seorang perempuan. Ia masih muda. Wajahnya bulat. Besar badannya XXL. Ia sibuk dengan smartphone-nya. Sesekali ia tertawa. Lalu ia terlihat gelisah dan sepertinya sedikit kesal saat ia berbicara di smartphone itu. Tak lama kemudian datang seorang lelaki paruh banya. Wajahnya mirip dengan perempuan tadi. Ia menyapa perempuan muda itu dan mereka seperti sedikit cekcok sebentar. Lalu suasana hening. Dengan menutup wajahnya, mereka lalu tidur. Dilihat dari wajahnya sepertinya mereka adalah anak dan ayah. (Well, ini cerita yang tidak penting sebenarnya)

Mamet memasang earphone dan menutupi wajahnya dengan slayer serbagunanya. Ia terlihat tidur pulas. Sesekali terdengar Susi, Sofi dan Woro mengobrol. Tapi saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. 
Lalu saya? Saya berusaha tidur tapi tidak bisa. Mendengarkan musik pun tak lagi selera. Pikiran saya entah kemana, antara kosong dan mengawang. Pertanyaan yang saya ajukan sebelum berangkat ke Prau tak saya temukan jawabannya. Di Prau, saya tidak mendapati apa yang saya cari.

Kereta tiba di Jatinegara jam setengah empat pagi.

((Bersambung …))

____________________________________________________________________________________________

 

DSC00395
Bang Anjut

Kapan bakal naik gunung lagi, bang?

Cepat pulih, bang.

Iklan

Satu pemikiran pada “Sekilas Cerita untuk Bang Anjut: Prau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s